Tampilkan postingan dengan label E-book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-book. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

0 komentar

Yang Muda yang Anti JIL


Sudah pernah dengar kiprah Jaringan Islam Liberal (JIL), kan? Ya, gerakan yang sering mengatasnamakan kebebasan dalam segala hal ini memang cukup menarik perhatian publik.

Amat sering mereka melontarkan pendapat-pendapat baru yang keluar dari mainstream ajaran telah menjadi ijma’ di kalangan kaum Muslimin. Logika dan rasionalitas biasa mereka jadikan senjata andalan saat mengeluarkan “fatwa baru”.

Padahal, kita tentu menyadari bahwa tak semua hal bisa masuk logika kita. Tak ayal, beberapa ulama atau ustadz yang awam akan logika, filsafat, atau sejenisnya menjadi “galau” dibuatnya. Apalagi, santri-santri yang tentu masih perlu lebih banyak belajar, seringkali silau dengan pemikiran hasil “ijtihad” JIL dan kroni-kroninya. Jadi, jangan remehkan dampak dahsyat produk-produk mereka, kawan-kawan!

Hal itu menjadi salah satu penyebab tidak banyak kaum muda yang mau peduli terhadap gerakan kontra JIL. Demikian yang dulu pernah disampaikan para peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) dalam berbagai kesempatan.

Tapi, minimnya animo pemuda tersebut sepertinya akan segera berbalik. Mungkin ia telah sampai pada titik terendah. Kini, animo itu justru nampak perlahan naik. Munculnya gerakan # Indonesia Tanpa JIL (ITJ) adalah bukti nyatanya.

Upaya membendung pemikiran SEPILIS (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme) sekarang bukan lagi jadi proyek para cendekiawan Muslim yang hanif (lurus). Kaum muda di berbagai daerah pun sudah mulai ikut serta.

Saya merasakan betul, spirit perlawanan para aktivis ITJ ini saat kemarin (21/10) bertemu langsung dengan mereka. Dalam event # ARISAN (Ahad, Mari Belajar Islam dan Pemikiran) di sekretariat ITJ, Jl. Utan Kayu No. 68B Jakarta Timur tersebut, saya beserta beberapa rekan dari KAMMI Madani memang sengaja hadir. Selain untuk menimba ilmu langsung dari Ust. Adnin Armas, M. A. (Direktur Eksekutif INSISTS), agenda silaturrahim dan menambah link menjadi misi kami. Alhamdulillah, misi-misi tersebut tercapai dengan sukses.

Kembali ke pokok bahasan, kita patut bersenang hati melihat geliat gerakan anti JIL sudah mulai digandrungi para pemuda. Jangan bayangkan bahwa para aktivis ITJ itu ialah mereka semua yang berjenggot serta berkerudung dan berjilbab lebar. Beberapa sosok  yang sempat tertangkap mata saya justru tak sedikit yang tidak masuk kriteria itu.

Artinya, gerakan anti JIL ternyata sudah bukan lagi milik para aktivis pergerakan Islam saja. Mereka yang bercelana jeans, berkumis, bahkan yang masih senang merokok pun ikut dalam ITJ. Mengapa demikian? Menurut saya, amat tepat apa yang Ust. Adnin sampaikan kemarin. Ustadz  yang dikenal ahli filsafat serta menguasai Bahasa Inggris dan Latin ini kurang lebih berujar seperti ini:

“Sebenarnya setiap pribadi Muslim yang jujur dalam memahami Islam secara umum saja, tahu bahwa apa yang dilakukan oleh JIL itu tidak benar. Jadi, tidak perlu pintar-pintar amat untuk menentukan sikap terhadap kerancuan berpikir ala JIL. Bukankah keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir sudah final? Bukankah telah jelas bahwa Alquran itu dijamin oleh Allah tentang kesuciannya dan terhindar dari penyimpangan? Siapa pun, asalkan masih berpikir secara objektif pasti tidak setuju kalau ada yang mencoba mengktritisi hal yang sudah pasti kebenarannya itu.”

Maka, menjadi hal yang menarik melihat pergulatan pemikiran ini sudah tak lagi menjadi arena para “sesepuh”. Biarlah mereka dari kalangan JIL banyak merekrut sarjana bahkan doktor bertitel yang sudah tak beres lagi pemikirannya.

Maka, di sini kaum muda Muslim sudah mulai merapat dengan para intelektual Muslim yang insyaAllah masih hanif. Akan tetapi, tentu upaya meng-upgrade kapasitas dan kualitas keilmuan tetap akan menjadi salah satu agenda kami. Jika saat ini sudah mulai tumbuh tunas muda anti JIL, maka tidakkah kamu malu jika hanya berdiam diri?


RM, 23 Oktober 2012



Nur Afilin
Mahasiswa


Sumber : http://www.republika.co.id
0 komentar

Apa Linux itu ?


Linux adalah sebuah program open source yang gratis di bawah lisensi GNU, sistem operasi 32-64 bit, yang merupakan turunan dari Unix dan dapat dijalankan pada berbagai macam platform perangkat keras mulai dari Intel (x86), hingga prosesor RISC. Linux sebagai program open source yang gratis Salah satu yang membuat Linux terkenal adalah karena gratis. Dengan lisensi GNU (Gnu Not Unix) Anda dapat memperoleh program, lengkap dengan kode sumbernya (source code). Tidak hanya itu, Anda diberikan hak untuk mengkopi sebanyak Anda mau, atau bahkan mengubah kode sumbernya.Dan itu semua legal dibawah lisensi. Meskipun gratis, lisensi GNU memperbolehkan pihak yang ingin menarik biaya untuk penggandaan maupun pengiriman program. Lisensi lengkap dari GNU, dapat Anda baca di Lampiran III. Penerjemahan lisensi GNU ke dalam Bahasa Indonesia, saat buku ini disusun masih dilakukan.

     Catatan :

    Literatur lengkap tentang GNU dapat Anda baca di situs web mereka yaitu http://www.gnu.org.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Anda dapat memperoleh Linux tanpa harus membayar sama sekali. Jika Anda harus membayar tiap kali instal perangkat lunak di lain komputer, maka dengan Linux Anda dapat menginstalnya dimana saja tanpa harus membayar lisensi.

Kebebasan yang paling penting dari Linux, terutama bagi programmer dan administrator jaringan, adalah kebebasan memperoleh kode sumber (source code) dan kebebasan untuk mengubahnya. Ini berimplikasi pada beberapa hal penting. Pertama keamanan, yang kedua dinamika.

 Jika perangkat lunak komersial tidak memperkenankan Anda untuk mengetahui kode sumbenya maka Anda tidak akan pernah tahu apakah program yang Anda beli dari mereka itu aman atau tidak (sering disebut security by obscurity). Hidup Anda di tangan para vendor. Dan jika ada pemberitahuan tentang bug dari perangkat lunak komersial tersebut, seringkali sudah terlambat. Dengan Linux, Anda dapat meneliti kode sumbernya langsung, bersama dengan pengguna Linux lainnya. Berkembangnya pengguna Linux sebagai komunitas yang terbuka, membuat bug akan cepat diketahui, dan secepat itu pula para programmer akan memperbaiki programnya. Anda sendiri juga yang menentukan kode yang cocok sesuai dengan perangkat keras maupun kebutuhan dasar perangkat lunak lainnya untuk dapat diimplementasikan. Ibarat sebuah mobil, Anda bisa memodifikasi sesukanya, bahkan hingga mesin sekalipun, untuk memperoleh bentuk yang diinginkan.

Keterbukaan kode sumber juga memungkinkan sistem operasi berkembang dengan pesat. Jika sebuah program dengan sistem tertutup dan hanya dikembangkan oleh vendor tertentu, paling banyak sekitar seribu hingga lima ribu orang. Sedangkan Linux, dengan keterbukaan kode sumbernya, dikembangkan oleh sukarelawan seluruh dunia. Bug lebih cepat diketahui dan program penambalnya (patch) lebih cepat tersedia. Pendekatan pengembangan sistem operasi ini disebut Bazaar. Kebalikannya sistem Chatedraal sangat tertutup dan hanya berpusat pada satu atau dua pengembang saja.

 Sebagai tambahan, Linux menyediakan bahasa pemrograman gratis, lengkap dengan kompilernya, maupun program pembantunya. Beberapa diantaranya adalah :

  • ADA
  • BASIC
  • C
  • C++
  • Expect
  • FORTRAN
  • GTK, untuk membuat aplikasi GUI di Linux
  • PASCAL
  • Phyton
  • Skrip Shell
  • TCL
  • Perl (The Practical Extraction and Report Language), sering dipakai untuk membuat skrip CGI di web.


Sumber : Google
   

Minggu, 04 Desember 2011

0 komentar

E-book